Tari randu
kentir adalah tari tradisional masyarakat Indramayu Desa Jumbleng, tarian ini
merupakan tarian persembahan yang biasa di tampilkan pada saat penyambutan
tamu, (Mapag)jemput penganten.
Pada pagelarannya tari Randu
Kentir dipirig gamelan dan terbang. Dengan pirigan musik sederhana ini, mampu
mengiringi gerakan sebanyak sepuluh penari cantik. Gerakan pada tarian pun
amatlah sederhana, unik, dan mudah dipelajari. Meskipun demikian, tarian yang berdurasi
selama 10 menit itu mampu menarik perhatian penonton.
Ketika Tari
Randu Kentir (akan) dijadikan ikon tari Kab. Indramayu, akan lebih arif
jika terlebih dahulu ditelusuri sisi historis, sosiologis, dan kultural yanag
melatari tari tersebut. Apakah Tari Randu Kentir berkorelasi dengan sisi
historis Indramayu? Apakah menggambarkan sisi sosiologis Indramayu? Apakah
merupakan produk kultural yang tumbuh di Indramayu?
§
Sisi Historis
Secara
historis, Indramayu bukanlah wilayah yang berdiri sendiri. Wilayah yang
sekarang disebut sebagai Kabupaten Indramayu, sebenarnya adalah bentukan
Pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke-19. Sebelumnya wilayah yang sekarang
bernama Kabupaten Indramayu banyak dipengaruhi oleh beberapa kekuatan politik
lokal. Sebutlah pada saat berdirinya Kerajaan Sumedanglarang abad ke-9,
wilayahnya sampai ke Indramayu. Bisa jadi, salah satu peninggalannya berupa
bahasa Sunda di Kecamatan Lelea (Desa Lelea dan Tamansari) dan Kandanghaur
(Desa Parean, Ilir, Bulak, Karanganyar).
Wilayah yang sekarang bernama Kabupaten
Indramayu juga dipengaruhi oleh Kerajaan Majapahit. Bukti arkeologisnya adalah
adanya ukiran Surya Majapahit pada makam Pangeran Selawe (Pangeran Guru) di
Desa Dermayu Kec. Sindang. Surya Majapahit merupakan lambang kerajaan tersebut.
Menurut Babad Dermayu, nama lain
Pangeran Guru adalah Arya Damar atau Arya Dilla. Dalam babad-babad lain yang
menceritakan Majapahit, Arya Damar atau Arya Dilla adalah bupati Palembang
keturunan Majapahit.
Kerajaan
Sunda (lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran) bahkan batasnya sampai
wilayahnya yang sekarang bernama Kabupaten Indramayu. Catatan Tome Pires
(pengelana dari Portugis yang sampai ke Indramayu), pada tahun 1513-1515 ada
pelabuhan yang cukup besar, yakni pelabuhan Cimanuk. Pelabuhan tersebut
merupakan pelabuhan terbesar kedua di pantai utara Jawa bagian Barat, setelah
Sundakalapa. Pelabuhan Cimanuk dikuasai Kerajaan Sunda, dengan menempatkan
syahbandar di situ. Meski syahbandar beragama Hindu (agama resmi kerajaan),
masyarakat sekitar sudah beragama Islam.
Tinggalan
akan adanya pelabuhan mungkin sulit diketemukan dalam benda-benda arkeologis,
tetapi bisa dijumpai pada nama-nama desa di sekitar bekas pelabuhan yanag
merujuk nama istilah di pelabuhan. Ada Desa Pasekan (berasal dari kata pasek, menumpuk barang-barang di gudang
pelabuhan), Desa Pagirikan (girik), Desa Pabean (bea), dan Paoman (paomahan).
Kesultanan
Cirebon ketika pertama kali berdiri pada abad ke-15, juga wilayahnya sampai ke
wilayah yang sekarang bernama Kab. Indramayu. Batas paling utara Kesultanan
Cirebon adalah Junti, Karangampel, dan Krangkeng. Batas lain Kesultanan Cirebon
adalah Losari (timur), Cigugur (selatan), dan Gunung Kromong Palimanan (barat).
Jauh sebelum itu, yakni sekitar abad ke-14. Syeh Nurjati (Syeh Datuk Kahfi atau
Syeh Idofi), ulama dari Parsi yang menyebarkan Islam di Cirebon dan sekitarnya,
juga dikenal di Indramayu. Bukti arkeologisnya adalah sebuah makam di Desa
Pabean Ilir Kecamatan Pasekan.
Versi
lain tentang Wiralodra, seperti dari Carita Purwaka Caruban Nagari dan
naskah-naskah lain menyebutkan, bahwa Wiralodra adalah prajurit Sultan Agung
dari Kesultanan Mataram yang ikut menyerbu Batavia pada tahun 1628-1629. Dua
kali penyerangan itu gagal. Akhirnya Sultan Agung melakukan program “bedol desa”
dari Jawa Tengah pantai utara Jawa Barat, dari Cirebon sampai Karawang.
Wiraperbangsa atau Singaperbangsa ditempatkan sebagai adipati di Karawang,
sedangkan Wiralodra ditempatkan sebagai adipati di Indramayu.
Merunut
catatan historis seperti itu mungkin bisa memetakan jatidiri sesungguhnya Tari
Randu Kentir. Apalagi tari tersebut, konon merupakan media syiar Islam oleh
Mbah Kuwu Sangkan (nama lainnya: Walangsungsang, Pangeran Cakrabuwana, Pangeran
Cakrabumi, Ki Somadullah, dan Abdullah Iman). Fakta ini tentu tidak segaris
dengan pengaruh dari Kerajaan Sumedanglarang (abad ke-9), Majapahit (abad
ke-15), dan Sunda/Pajajaran (abad ke-16)
yang Hindu-Buddha. Fakta ini juga cenderung tidak sesuai dengan pengaruh
Mataram Islam Sultan Agung, karena secar tegas disebutkan adanya faktor Mbah
Kuwu Sangkan.
Yang
paling memungkinkan pengaruhnya adalah dari Kesultanan Cirebon ataupun sebelum
berdiri resmi menjadi kesultanan. Peran
Mbah Kuwu Sangkan mau tak mau harus dicatat dalam catatan tersendiri.
§
Sisi
Sosisologis
Peran
Mbah Kuwu Sangkan demikian menonjol dalam syiar Islam di Jawa Barat pada abad
ke-16, termasuk di Indramayu. Bukti arkeologis bisa ditunjukkan dengan adanya
60 makam Ki Gede dari desa-desa di Indramayu yang dimakamkan di Astana
Gunungjati Cirebon. Ada latar belakang keterpengaruhan, tetapi juga di situ ada
pengakuan adanya “imam”, “seba”, dan “kepatuhan” terhadap Mbah Kuwu Sangkan.
Sisi
solisologis inilah yang bisa jadi Tari Randu Kentir bukanlah tari yang secara
akarnya berdiri sendiri di Indramayu. Sebagaimana diketahui, Randu Kentir
merupakan salah satu jenis dari Tari Trebang. Sebuah tari yang lekat akan
dimensi syiar Islam, yang juga bisa ditemui dari daerah Cirebon hingga Banten.
Pada tataran ini bisa disejejarkan dengan jenis kesenian lainnya yang cenderung
berperan sebagai syiar, seperti Tari
Rudat, Berokan, Wayang Golek Cepak/Menak, Wayang Kulit Purwa,
Tari Topeng.
Sebagai
kesenian yang memiliki sisi peran syiar Islam, harus bisa diketemukan
simbol-simbol apa yang menunjukkan karakter ke-Islam-annya. Apakah dari sisi
gerakan yang menunjuk adanya keesaan, busana yang Islami, ataukah tetabuhan
yang lebih mengandalkan perkusi.
§
Sisi Kultural
Sebagai
produk budaya, seni tari tentu saja merupakan olah pikir dan olah rasa
kreatornya. Dimensi lain yang melatari hanyalah setting semata. Kerja otak dan kerja batin-lah yang selama ini
menjadikan Tari Randu Kentir terasa memiliki estetika tersendiri. Sebagai
produk budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, Tari
Randu Kentir senantiasa terbuka menerima penyempurnaan demi penyempurnaan. Hal
yang sangat berbeda dengan kesenian yang berasal dari pusat keraton dengan
pakem yang ajeg dan penuh ritus.
Yang
muncul selama ini diketahui tari tersebut berkembang di Kecamatan Losarang,
yang konon dikembangkan seorang rakyat biasa. Asal-usul gerakan yang konon dari
sebatang kayu randu yang kentir (hanyut)
dianggap merupakan gerakan estetis tersendiri dalam tari tersebut. Latar
kultural ini demikian melegenda. Tari Randu Kentir sebenarnya merupakan
pengembangan dari Tari Trebang, yang merupakan jenis tari, yang bisa
diketemukan di daerah lain.
Akan
tetapi tari ini meniliki kekhasan tersendiri. Jika dihubungkan dengan seni
Islami lainnya, terasa ada sesuatu yang berbeda. Dalam khazanah tari yang
berkembang pada saat perkembangan Islam di Indonesia, semisal rudat, saman, atau zafin, tari
ini memang agak berbeda. Hal yang sangat berbeda pula jika dihubungkan dengan
tari tradisional lainnya, misalnya srimpi
atau tayuban.
Rudat, saman, atau zafin
sangat kental sekali pada nuansa kultural Timur Tengah. Bahkan Rudat merupakan raudloh yang bisa diartikan sebagai
taman, kebun, atau juga latihan.
Tari
Randu Kentir justru lebih mendekati tari topeng gaya Carpan dari Cibereng
Cikedung. Hal ini mungkinkah karena persoalan jarak sosiologis Cikedung dan
Losarang yang berdekatan, kemudian memberi pengaruh kultural. Ada nuansa lokal
yang terimbas, tetapi juga ada nuansa seni trebang secara akarnya.
Agar seni tarian Randu Kentir
tumbuh dan berkembang di daerahnya sendiri, alangkah baiknya mulai sekarang
seni warisan leluhur ini bukan hanya diminati dan digeluti para seniman saja.
Bila perlu dijadikan agenda kegiatan kesenian di setiap sekolah, atau di
sanggar sanggar seni yang ada.
Kekayaan seni budaya lokal, untuk sekarang dan ke depan bukan hanya sekedar menjadi kebanggan pelestarian budaya. Lebih jauh tak hanya bisa menjadi asset budaya, tetapi juga bisa menjadi daya tarik wisata.
Kekayaan seni budaya lokal, untuk sekarang dan ke depan bukan hanya sekedar menjadi kebanggan pelestarian budaya. Lebih jauh tak hanya bisa menjadi asset budaya, tetapi juga bisa menjadi daya tarik wisata.
sumber :
http://adindadinis.blogspot.com/

makna tarianya
BalasHapus