Malam
benar-benar telah larut, namun entah mengapa sepasang mataku tak ingin sedikit
pun terlelap. Aku pun mulai gelisah, memandangi setiap sudut kamar yang tampak
gelap karena sang penerang sudah
dimatikan. Aku bangkit dari tempat tidur dan menyalakan sang penerang,
berjalan menatap ke luar jendela memandangi setiap bintang yang bertebaran
diangkasa yang seolah menyapaku. Sesaat aku melirik kearah sebuah boneka
beruang yang berwarna pink berpitakan biru seolah tersenyum menyampaikan sebuah
pesan bahagia. Aku mendekat dan meraih
boneka tersebut. Ya aku ingat akan sesuatu, yang tak lain adalah sang pemberi
boneka tersebut. Boneka beruang yang ku beri nama Mark itu pemberian dari Kak
Aldi, tetanggaku yang dulu tinggal tepat disebelah rumah saat aku berulang
tahun yang ke 14. Keluarga Kak Aldi sudah seperti keluargaku. Apalagi Kak Aldi, dia adalah
orang yang paling dekat denganku, dia adalah orang yang selalu ada disaat aku
sedih, dia adalah orang yang bisa membuat tangisku seketika menjadi senyum yang
amat manis. Namun sayangnya 3 tahun yang lalu keluarga Kak Aldi pindah tepat
seminggu setelah hari ulang tahunku.
Aku mendekap erat boneka tersebut
sembari memendangi keluar jendela, aku teringat kejadian 8 bulan yang lalu
tepat 2 hari sebelum aku genap berusia
17 tahun....
***
Tett...tet...tet....tettt... bel tanda berakhirnya pelajaran
berbunyi, aku yang duduk di bangku ke tiga baris kedua dari kanan pun tampak
sibuk memasukkan buku-buku kedalam tas, saking sibuknya tanpaku sadari Vino
cowok dengan tinggi 180 cm dengan memakai switer putih kesayangannya sudah
berada dihadapanku.
“Masih sibuk Ra?” Tanya Vino
sembari tersenyum menatapku
Aku pun agak terkejut dengan
kehadirannya yang tiba-tiba, namun aku menyimpan keterkejutanku itu.
“Iya sebentar lagi” jawabku yang
pura-pura sibuk
Vino pun melangkahkan kakinya dan
duduk disampingku, ia pun menatapku yang masih agak acuh padanya...
“Ra, hari ini kita enggak bisa
pulang bareng”
Aku tersentak mendengarnya, terdiam
sesaat dan menatap ke arahnya...
“Latihan lagi? Tumben biasanya
seminggu cuma 2 kali tapi kok sekarang sampai 3 kali” tanyaku heran
“Iya jadwal latihan futsal untuk
minggu ini diperbanyak soalnya bulan depan ada turnamen” lanjutnya manja
Aku pun mengangguk setuju. Kami
berdua melangkah keluar kelas, namun baru beberapa langkah Vino berhenti dan
pamit karena ia harus buru-buru keruang ganti pemain.
Akhir-akhir ini aku memang agak
terbiasa pulang sendiri karena Vino memang sibuk dengan futsalnya, meski begitu
aku bahagia karena dihatinya cuma ada aku seorang. Aku memang cewek paling
beruntung bisa jalan sama Vino, hubungan kami pun sudah hampir 1 tahun dan
jarang terjadi percekcokan karena kami saling mengerti dan percaya.
Namun lamunanku buyar seketika
kala mendengar suara yang khas dan akrab memanggil namaku dengan panggilan
kesayangannya tepat saat aku berada didepan gerbang sekolah, aku menoleh
berusaha mencari disekelilingku arah datangnya sumber suara tersebut, dan
pencarianku berhasil kala mendapati seseorang yang tentu tidak asing bagiku.
Tingginya hampir sama dengan Vino dan memiliki lesung pipi yang indah,
mengenakan celana jeans dan kaus putih dengan tas hitam menempel dipundak yang
selalu setia menemaninya. Tangannya dilambaikan tanda aku disuruh mendekat
kearahnya, aku pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman tanda aku setuju
dan berjalan menghampirinya...
“Kak Aldi??? Tumben ke sini enggak
telefon dulu?” Tanyaku heran bercampur senang sambil menggenggam tangan Kak
Aldi.
“Ya tadinya sih pengen telefon
tapi enggak sempet jadi ya langsung aja kesini. Kak Aldi kangen banget pengen
ketemu sama Non Zahra kan udah 3 bulan
kita enggak ketemu” ucap Kak Aldi manja
“Iya abangku tersayang Non Zahra
juga kangen banget” balasku sambil tersenyum pada Kak Aldi
Walaupun sekarang aku dan Kak Aldi
berjauhan tapi dia masih sering datang untuk mengunjungiku dan mendengarkan semua
curhatku. Bahkan kalau aku sedang sedih, Kak Aldi menyempatkan diri datang ke
rumah hanya sekedar untuk menghiburku, beruntungnya diriku...
Aku dan Kak Aldi berjalan
berdampingan menuju taman kota yang kebetulan tidak jauh dari sekolah.
Sebenarnya ada beberapa pertanyaan dibenakku, tumben Kak Aldi menujungiku
disekolah biasanya dia langsung datang kerumah, tatapan matanya, senyumnya,
gerak tubuhnya seolah aneh bagiku. Baru kali ini aku melihat Kak Aldi begitu
berbeda dengan biasanya, ia yang biasanya bawel tapi kok berubah menjadi
pendiam yang hanya sesekali tersenyum padaku. Ah... itu hanyalah pertanyaan
bodoh bagiku, yang penting sekarang aku bersama Kak Aldi. Entah mengapa aku
justru merasa lebih nyaman bersama Kak Aldi ketimbang bersama Vino. Sepanjang
perjalanan menuju taman kota Kak Aldi tak pernah melepaskan genggaman tangannya
padaku. Sampailah kami berdua di sebuah bangku taman yang disampingnya sebuah
pohon besar memayungi kami dari teriknya matahari siang itu, memberikan
kesejukkan. Aku melihat Kak Aldi yang tampak agak kelelahan....
“Capek ya kak?”
“Iya lumayan, gimana tadi
sekolahnya?” tanyanya sambil menyandarkan diri dibangku taman.
“Baik” jawabku mantap
“Tumben pulang sendirian biasanya
bareng sama Vino”
“Iya, akhir-akhir ini dia lagi
sibuk dengan futsalnya itu” jawabku menunduk sedih
Kak Aldi pun memegang pundakku
sambil berkata
“Jangan sedih, Kak Aldi disini
sama kamu” katanya sembari tersenyum hingga lesung pipinya tampak. Aku pun jadi
tenang seketika mendengar perkataan Kak Aldi yang usianya terpaut 3 tahun lebih
tua dariku. Ia hanya menatapku dengan penuh arti, sayangnya aku sendiri tidak
mengerti makna tatapan matanya, Kak Aldi melirik ke jam tangan miliknya.
“Non Zahra, Kak Aldi enggak bisa
lama-lama dan harus pulang sekarang, dan Non juga harus langsung pulang entah
dimarahin bunda loh” katanya sambil
mengenggam tanganku
“Oke deh abangku tersayang,
ngomong-ngomong enggak mampir kerumah dulu?”
“Kapan-kapan
saja, maaf ya abang enggak bisa ngantar kamu pulang” jawabnya singkat.
“Enggak apa-apa kok bang” jawabku
dengan tersenyum
Aku pun bangkit dari bangku dan
melangkah pulang kerumah meninggalkan Kak Aldi yang masih duduk seorang diri di
bangku taman. Saatku menoleh kearahnya ternyata Kak Aldi masih memandangku
dengan senyum lesung pipi khasnya.
***
Rumahku tampak sepi dari luar
namun itu tidak membuat langkahku terhenti untuk menekan bel yang tepat berada
di sebelah kanan pintu. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara orang
membuka kunci pintu. Begitu pintu rumah dibuka aku pun langsung disambut
senyuman yang klasik yang membuat hatiku nyaman, dan langsung bersalaman
mengecup tangannya. Bunda menyuruhku makan terlebih dahulu namun aku menolaknya
karena perutku masih terasa kenyang. Kakiku langsung menuntun agar segera masuk
ke kamar dan beristirahat. Namun dalam benakku masih terpikirkan sikap Kak Aldi
yang sungguh aneh hari ini, rasanya hari ini aku benar-benar tidak mengenal Kak
Aldi, baru kali ini Kak Aldi memperlakukanku bukan selayaknya seorang adik tapi
lebih tepatnya seperti seorang kekasih, ah aku aku sendiri benar-benar merasa
bersalah pada Vino, tapi sudahlah tidak usah di pikirkan lagi, begitu ucapku
dalam hati.
Pagi itu aku mulai dengan
biasanya, berangkat ke sekolah bersama dengan ayah. Sejenak aku menatap rumah
sebelah yang dulu ditempati keluarga Kak Aldi, aku benar-benar merindukannya,
padahal baru saja kemarin aku bertemu dengan Kak Aldi. Hari itu benar-benar
aneh bagiku, sepanjang hari hanya senyum dengan lesung pipi indah Kak Aldi yang
ada dalam pikiranku sedikit pun tidak ada bayangan Vino.
Sepulang sekolah entah ada
kekuatan apa yang menuntun langkah kakiku untuk berjalan menuju taman tempat
aku bertemu Kak Aldi kemarin. Setibanya di sana aku benar-benar merasa terkejut
bercampur bahagia, kala seseorang yang kurindukan, yang ku bayangkan sepanjang
hari ini ada disana. Dia masih mengenakan pakaian yang kemarin, aku pun
langsung menghampiri dan duduk disampingnya.
“Baru pulang Non?” Tanya Kak Aldi
ramah dengan senyum khasnya
“Iya kak. Kok pakaiannya enggak
ganti-ganti sih? udah mulai belajar jorok nih ceritanya?”
Kak Aldi hanya tersenyum mendengar
celotehanku.
“Oh iya Kak Aldi ke sini naik apa?
Mana motornya?” sambungku
“Motor Kak Aldi lagi diservis di
bengkel” jawabnya lembut
Aku pun mulai bercerita panjang
lebar dari mulai hubunganku dengan Vino, masalah disekolah pokoknya hari itu
kuceritakan semuanya pada Kak Aldi. Ia sendiri hanya sebagai pendengar setia
dan tersenyum dengan memperlihatkan lesung pipinya yang khas itu.
“Ihhhh... kok Cuma senyum sih,
komentar dong” pintaku manja sambil menarik tangan Kak Aldi.
“Lagi males, enakan dengerin
Non ngoceh”
Aku menatap wajah Kak Aldi yang
benar-benar berbeda hari itu...
“Kak Aldi lagi sakit ya?” tanyaku
khawatir
“Memangnya kenapa?”
“Muka Kak Aldi pucat banget, yuk
kita pulang ke rumahku. Pasti bunda udah nyiapin makanan enak, abis itu Kak
Aldi istirahat dan minum obat, ya”
“Kak Aldi enggak apa-apa kok Non,
enggak usah khawatir tenang saja” jawabnya santai.
Aku pun lantas tidak percaya pada
apa yang dikatakan Kak Aldi, aku mencoba terus merayu Kak Aldi supaya ia mau
mampir ke rumah terlebih dahulu, namun ia tetap bersikeras menolaknya. Aku
semakin merasa janggal atas peristiwa tersebut, aku makin merasa dia bukan Kak
Aldi karena biasanya dia paling semangat kalau diajak ke rumah. Apalagi kalau
sudah bertemu dengan bunda, ugh... mereka berdua bikin aku iri bahkan aku
sendiri serasa dicuekin sama bunda. Aku menyerah, sampai akhirnya Kak Aldi
mengatakan sesuatu yang tidak ku sangka sebelumnya...
“Non, abang sayang banget sama Non
” katanya spontan
Aku memang sering mendengar
kata-kata itu dari bibir Kak Aldi, namun kali ini terasa beda dari yang
biasanya. Entah mengapa, aku berusaha menutupi keherananku.
“Iya, Non juga sayang banget sama abang” jawabku
“Non, kali ini abang serius. Jujur
abang sayang Non lebih dari sekedar
sayang kakak ke adik, abang enggak peduli sama hubungan Non dan Vino. Abang
juga enggak peduli sama respon Non nantinya. Yang jelas abang benar-benar
sayang sama Non.” Sambungnya sambil mengengegam tanganku.
Saat itu aku bingung bercampur
bahagia, ku rasakan tangan Kak Aldi yang begitu dingin, ah mungkin cuma
perasaanku saja, mungkin juga tanganku yang dingin mendengar pengakuan jujur
dari Kak Aldi. Kami berdua diam sesaat, Kak Aldi masih menatapku dengan lembut,
sampai aku sendiri tidak berani menatapnya takut kalau nantinya terjadi sesuatu
diantara kami berdua.
“Non, tidak perlu menjawab. Abang
ngungkapin ke Non saja sudah lega rasanya. Makasih ya Non selama ini mau
berbagi bersama abang. Maaf kalau selama ini abang banyak salah sama Non”
ucapnya tulus.
Aku masih terdiam membisu, bingung
harus berkata apa. Kak Aldi berdiri di hadapanku, ia pun berpamitan pulang
kepadaku.
“Non, abang pulang dulu ya. Jaga
diri baik-baik, abang akan selalu sayang sama Non, abang akan selalu tersenyum
untuk Non.” Lanjutnya.
Ia pun mengecup keningku, hal yang
baru ia lakukan padaku. Kemudian Kak Aldi melangkahkan kakinya meninggalkanku
yang masih duduk terpaku di bangku taman, ia tersenyum menatapku. Saat itu
tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku, entah mengapa rasanya kali ini
berat melihat kepergian Kak Aldi tak seperti biasanya. Aku berusaha berlari
mengejar Kak Aldi namun tampaknya dia sudah jauh tidak terkejar.
***
Hari itu pikiranku benar-benar
kacau, aku pun bergegas agar segera sampai di rumah, mandi, dan tidur. Namun
apa yang ku rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Saat ku masuki
ruang tamu di sana ku lihat bunda tengah mengangis tersedu-sedu seorang diri,
aku pun langsung menghampiri beliau dan memeluknya.
“Bun, ada apa? kenapa? apa yang
sudah terjadi?” tanyaku khawatir
Bunda tetap diam membisu, beliau
masih saja terus menangis, sampai akhirnya ayah muncul dari arah dapur dengan
membawa segelas air putih di tangannya. Dengan spontan aku langsung bertanya
pada ayah...
“Yah, bunda kenapa?” tanyaku
Ayah duduk di sampingku, awalnya
beliau terdiam seolah menyembunyikan sesuatu, dengan tenang dan perlahan beliau
menyampaikan sebuah berita yang tidak pernah kuduga dan terpikirkan...
“Tadi Om Jamal telefon katanya Kak
Aldi meninggal karena kecelakaan” jawab ayah tenang sembari meletakkan gelas
yang berisi air putih.
Rasa sedih yang mendalam
menyelimuti hatiku, tubuhku lemas, namun aku berusaha tenang dan terus mengorek
informasi lebih jelas dari ayah...
“Kapan, dan dimana?” tanyaku
dengan perasaan tidak percaya.
“Dua hari yang lalu di jalan xxx.
Awalnya Aldi dibawa ke rumah sakit masih dalam kondisi koma, namun tuhan
berkehendak lain setelah koma 2 hari nyawanya tidak tertolong.” Sambung ayah
“Enggak mungkin yah! Dua hari yang
lalu Kak Aldi mengunjungiku sepulang sekolah dan dia kelihatannya baik-baik
saja,” sanggahku yang tanpa terasa air mata sudah membasahi pipiku
“Kamu ini jangan mengada-ada!”
bentak ayah.
Aku bagai disambar petir, badanku
lemas, pikiranku makin kacau, kepalaku pusing. Aku tidak percaya pada semua
yang dikatakan ayah. Apakah ini cuma jebakan untuk pesta ulang tahunku seperti
di film-film? Aku juga tidak tahu pasti.
“Aku serius ayah! Baru saja aku bertemu
dengan Kak Aldi di taman kota. Aku tidak percaya pada apa yang ayah katakan”
“Sudah...sudah!!! lebih baik kita
pergi ke rumah Om Jamal sekarang” lerai bunda yang masih tampak terisak-isak.
Aku dan ayah pun terdiam. Kami
sekeluarga bergegas menaiki mobil yang dikendarai ayah. Sepanjang perjalanan
aku berpikir inikah jawaban dari semua kejanggalanku selama 2 hari ini?
Kepalaku semakin pusing memikirkannya, seolah aku tidak percaya pada semua yang
terjadi hari ini, sementara ku lihat bunda menangis terus menerus, aku sendiri
tidak tega melihatnya. Ku peluk bunda yang kebetulan duduk di jok tengah
tepatnya dibelakang supir bersamaku.
***
Ku buka pintu mobil dan turun
dengan perlahan. Di rumah itu sudah tampak banyak orang mengenakan pakaian serba
hitam. Apakah ini mimpi? Aku berusaha menyakinkan diri dengan mencubiti pipiku,
tentu terasa sakit. Berarti ini kenyataan dan bukan mimpi, bunda dan ayah
langsung menggandengku yang masih mengenakan seragam putih abu-abu kala itu.
Kami bertiga berjalan menuju rumah duka. Begitu sampai kami dipersilakan masuk
dan duduk oleh Om Jamal.
“Maafkan kami telat memberi
informasi tentang Aldi, waktu itu kami benar-benar bingung” sesal Om Jamal
“Ya sudah, kami turut berduka cita
atas perginya Aldi” jawab ayah bijak
“Sekarang jasad Kak Aldi mana om?
Aku pengen lihat” pintaku memelas dengan air mata yang terus mengalir.
Kemudian Om Jamal mengantar aku
dan ayah untuk melihat jasad abangku tersayang untuk yang terakhir kalinya. Aku
berdiri tepat di depan jasad Kak Aldi, ku pandangi sejenak tubuh yang terbujur
kaku yang hanya ditutupi kain, dengan perlahan aku buka kain penutup wajahnya.
Tanpa terasa air mata mengalir deras membasahi wajahku, ayah pun langsung
mendekapku sambil berbisik
“Ikhlaskan Kak Aldi, dari surga
dia pasti tersenyum melihatmu” kata ayah bijak.
Aku melepaskan pelukan ayah dengan
perlahan, berusaha untuk tegar. Ku kecup kening tubuh yang terbujur kaku itu
dan menutup kembali kain penutup kepalanya.
***
Mungkin
sampai saat ini aku tidak percaya dan mengerti apa maksud dari semua ini. Air
mata sukses membasahi wajahku malam itu untuk mengenang sosok Kak Aldi yang
tanpaku sadari dialah cinta pertamaku. Aku kembali meredupkan sang penerang dan
kembali ke tempat tidur. Mencoba memejamkan mata sambil mendekap erat Mark,
sang boneka beruang pemberian Kak Aldi. Aku tidak tahu kapan lagi melihat
senyum seindah seperti senyum Kak Aldi namun yang ku tahu sekarang Kak Aldi
sedang mengembangkan senyumnya dari surga untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar