JellyPages.com

Halaman

Sabtu, 02 Maret 2013

Senyuman dari Surga


                   Malam benar-benar telah larut, namun entah mengapa sepasang mataku tak ingin sedikit pun terlelap. Aku pun mulai gelisah, memandangi setiap sudut kamar yang tampak gelap karena sang penerang sudah  dimatikan. Aku bangkit dari tempat tidur dan menyalakan sang penerang, berjalan menatap ke luar jendela memandangi setiap bintang yang bertebaran diangkasa yang seolah menyapaku. Sesaat aku melirik kearah sebuah boneka beruang yang berwarna pink berpitakan biru seolah tersenyum menyampaikan sebuah pesan bahagia. Aku  mendekat dan meraih boneka tersebut. Ya aku ingat akan sesuatu, yang tak lain adalah sang pemberi boneka tersebut. Boneka beruang yang ku beri nama Mark itu pemberian dari Kak Aldi, tetanggaku yang dulu tinggal tepat disebelah rumah saat aku berulang tahun yang ke 14. Keluarga Kak Aldi sudah seperti  keluargaku. Apalagi Kak Aldi, dia adalah orang yang paling dekat denganku, dia adalah orang yang selalu ada disaat aku sedih, dia adalah orang yang bisa membuat tangisku seketika menjadi senyum yang amat manis. Namun sayangnya 3 tahun yang lalu keluarga Kak Aldi pindah tepat seminggu setelah hari ulang tahunku.
              Aku mendekap erat boneka tersebut sembari memendangi keluar jendela, aku teringat kejadian 8 bulan yang lalu tepat  2 hari sebelum aku genap berusia 17 tahun....
***
              Tett...tet...tet....tettt... bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, aku yang duduk di bangku ke tiga baris kedua dari kanan pun tampak sibuk memasukkan buku-buku kedalam tas, saking sibuknya tanpaku sadari Vino cowok dengan tinggi 180 cm dengan memakai switer putih kesayangannya sudah berada dihadapanku.
              “Masih sibuk Ra?” Tanya Vino sembari tersenyum menatapku
              Aku pun agak terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba, namun aku menyimpan keterkejutanku itu.
              “Iya sebentar lagi” jawabku yang pura-pura sibuk
              Vino pun melangkahkan kakinya dan duduk disampingku, ia pun menatapku yang masih agak acuh padanya...
              “Ra, hari ini kita enggak bisa pulang bareng”
              Aku tersentak mendengarnya, terdiam sesaat dan menatap ke arahnya...
              “Latihan lagi? Tumben biasanya seminggu cuma 2 kali tapi kok sekarang sampai 3 kali” tanyaku heran
              “Iya jadwal latihan futsal untuk minggu ini diperbanyak soalnya bulan depan ada turnamen” lanjutnya manja
              Aku pun mengangguk setuju. Kami berdua melangkah keluar kelas, namun baru beberapa langkah Vino berhenti dan pamit karena ia harus buru-buru keruang ganti pemain.
              Akhir-akhir ini aku memang agak terbiasa pulang sendiri karena Vino memang sibuk dengan futsalnya, meski begitu aku bahagia karena dihatinya cuma ada aku seorang. Aku memang cewek paling beruntung bisa jalan sama Vino, hubungan kami pun sudah hampir 1 tahun dan jarang terjadi percekcokan karena kami saling mengerti dan percaya.
              Namun lamunanku buyar seketika kala mendengar suara yang khas dan akrab memanggil namaku dengan panggilan kesayangannya tepat saat aku berada didepan gerbang sekolah, aku menoleh berusaha mencari disekelilingku arah datangnya sumber suara tersebut, dan pencarianku berhasil kala mendapati seseorang yang tentu tidak asing bagiku. Tingginya hampir sama dengan Vino dan memiliki lesung pipi yang indah, mengenakan celana jeans dan kaus putih dengan tas hitam menempel dipundak yang selalu setia menemaninya. Tangannya dilambaikan tanda aku disuruh mendekat kearahnya, aku pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman tanda aku setuju dan berjalan menghampirinya...
              “Kak Aldi??? Tumben ke sini enggak telefon dulu?” Tanyaku heran bercampur senang sambil menggenggam tangan Kak Aldi.
              “Ya tadinya sih pengen telefon tapi enggak sempet jadi ya langsung aja kesini. Kak Aldi kangen banget pengen ketemu sama Non  Zahra kan udah 3 bulan kita enggak ketemu” ucap Kak Aldi manja
              “Iya abangku tersayang Non Zahra juga kangen banget” balasku sambil tersenyum pada Kak Aldi
              Walaupun sekarang aku dan Kak Aldi berjauhan tapi dia masih sering datang untuk mengunjungiku dan mendengarkan semua curhatku. Bahkan kalau aku sedang sedih, Kak Aldi menyempatkan diri datang ke rumah hanya sekedar untuk menghiburku, beruntungnya diriku...
              Aku dan Kak Aldi berjalan berdampingan menuju taman kota yang kebetulan tidak jauh dari sekolah. Sebenarnya ada beberapa pertanyaan dibenakku, tumben Kak Aldi menujungiku disekolah biasanya dia langsung datang kerumah, tatapan matanya, senyumnya, gerak tubuhnya seolah aneh bagiku. Baru kali ini aku melihat Kak Aldi begitu berbeda dengan biasanya, ia yang biasanya bawel tapi kok berubah menjadi pendiam yang hanya sesekali tersenyum padaku. Ah... itu hanyalah pertanyaan bodoh bagiku, yang penting sekarang aku bersama Kak Aldi. Entah mengapa aku justru merasa lebih nyaman bersama Kak Aldi ketimbang bersama Vino. Sepanjang perjalanan menuju taman kota Kak Aldi tak pernah melepaskan genggaman tangannya padaku. Sampailah kami berdua di sebuah bangku taman yang disampingnya sebuah pohon besar memayungi kami dari teriknya matahari siang itu, memberikan kesejukkan. Aku melihat Kak Aldi yang tampak agak kelelahan....
              “Capek ya kak?”
              “Iya lumayan, gimana tadi sekolahnya?” tanyanya sambil menyandarkan diri dibangku taman.
              “Baik” jawabku mantap
              “Tumben pulang sendirian biasanya bareng sama Vino”
              “Iya, akhir-akhir ini dia lagi sibuk dengan futsalnya itu” jawabku menunduk sedih
              Kak Aldi pun memegang pundakku sambil berkata
              “Jangan sedih, Kak Aldi disini sama kamu” katanya sembari tersenyum hingga lesung pipinya tampak. Aku pun jadi tenang seketika mendengar perkataan Kak Aldi yang usianya terpaut 3 tahun lebih tua dariku. Ia hanya menatapku dengan penuh arti, sayangnya aku sendiri tidak mengerti makna tatapan matanya, Kak Aldi melirik ke jam tangan miliknya.
              “Non Zahra, Kak Aldi enggak bisa lama-lama dan harus pulang sekarang, dan Non juga harus langsung pulang entah dimarahin bunda loh”  katanya sambil mengenggam tanganku
              “Oke deh abangku tersayang, ngomong-ngomong enggak mampir kerumah dulu?”
“Kapan-kapan saja, maaf ya abang enggak bisa ngantar kamu pulang” jawabnya singkat.
              “Enggak apa-apa kok bang” jawabku dengan tersenyum
              Aku pun bangkit dari bangku dan melangkah pulang kerumah meninggalkan Kak Aldi yang masih duduk seorang diri di bangku taman. Saatku menoleh kearahnya ternyata Kak Aldi masih memandangku dengan senyum lesung pipi khasnya.

***
              Rumahku tampak sepi dari luar namun itu tidak membuat langkahku terhenti untuk menekan bel yang tepat berada di sebelah kanan pintu. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara orang membuka kunci pintu. Begitu pintu rumah dibuka aku pun langsung disambut senyuman yang klasik yang membuat hatiku nyaman, dan langsung bersalaman mengecup tangannya. Bunda menyuruhku makan terlebih dahulu namun aku menolaknya karena perutku masih terasa kenyang. Kakiku langsung menuntun agar segera masuk ke kamar dan beristirahat. Namun dalam benakku masih terpikirkan sikap Kak Aldi yang sungguh aneh hari ini, rasanya hari ini aku benar-benar tidak mengenal Kak Aldi, baru kali ini Kak Aldi memperlakukanku bukan selayaknya seorang adik tapi lebih tepatnya seperti seorang kekasih, ah aku aku sendiri benar-benar merasa bersalah pada Vino, tapi sudahlah tidak usah di pikirkan lagi, begitu ucapku dalam hati.
              Pagi itu aku mulai dengan biasanya, berangkat ke sekolah bersama dengan ayah. Sejenak aku menatap rumah sebelah yang dulu ditempati keluarga Kak Aldi, aku benar-benar merindukannya, padahal baru saja kemarin aku bertemu dengan Kak Aldi. Hari itu benar-benar aneh bagiku, sepanjang hari hanya senyum dengan lesung pipi indah Kak Aldi yang ada dalam pikiranku sedikit pun tidak ada bayangan Vino.
              Sepulang sekolah entah ada kekuatan apa yang menuntun langkah kakiku untuk berjalan menuju taman tempat aku bertemu Kak Aldi kemarin. Setibanya di sana aku benar-benar merasa terkejut bercampur bahagia, kala seseorang yang kurindukan, yang ku bayangkan sepanjang hari ini ada disana. Dia masih mengenakan pakaian yang kemarin, aku pun langsung menghampiri dan duduk disampingnya.
              “Baru pulang Non?” Tanya Kak Aldi ramah dengan senyum khasnya
              “Iya kak. Kok pakaiannya enggak ganti-ganti sih? udah mulai belajar jorok nih ceritanya?”
              Kak Aldi hanya tersenyum mendengar celotehanku.
              “Oh iya Kak Aldi ke sini naik apa? Mana motornya?” sambungku
              “Motor Kak Aldi lagi diservis di bengkel” jawabnya lembut
              Aku pun mulai bercerita panjang lebar dari mulai hubunganku dengan Vino, masalah disekolah pokoknya hari itu kuceritakan semuanya pada Kak Aldi. Ia sendiri hanya sebagai pendengar setia dan tersenyum dengan memperlihatkan lesung pipinya yang khas itu.
              “Ihhhh... kok Cuma senyum sih, komentar dong” pintaku manja sambil menarik tangan Kak Aldi.
              “Lagi males, enakan dengerin Non  ngoceh” 
              Aku menatap wajah Kak Aldi yang benar-benar berbeda hari itu...
              “Kak Aldi lagi sakit ya?” tanyaku khawatir
              “Memangnya kenapa?”
              “Muka Kak Aldi pucat banget, yuk kita pulang ke rumahku. Pasti bunda udah nyiapin makanan enak, abis itu Kak Aldi istirahat dan minum obat, ya”
              “Kak Aldi enggak apa-apa kok Non, enggak usah khawatir tenang saja” jawabnya santai.
              Aku pun lantas tidak percaya pada apa yang dikatakan Kak Aldi, aku mencoba terus merayu Kak Aldi supaya ia mau mampir ke rumah terlebih dahulu, namun ia tetap bersikeras menolaknya. Aku semakin merasa janggal atas peristiwa tersebut, aku makin merasa dia bukan Kak Aldi karena biasanya dia paling semangat kalau diajak ke rumah. Apalagi kalau sudah bertemu dengan bunda, ugh... mereka berdua bikin aku iri bahkan aku sendiri serasa dicuekin sama bunda. Aku menyerah, sampai akhirnya Kak Aldi mengatakan sesuatu yang tidak ku sangka sebelumnya...
              “Non, abang sayang banget sama Non ” katanya spontan
              Aku memang sering mendengar kata-kata itu dari bibir Kak Aldi, namun kali ini terasa beda dari yang biasanya. Entah mengapa, aku berusaha menutupi keherananku.
              “Iya, Non  juga sayang banget sama abang” jawabku
              “Non, kali ini abang serius. Jujur abang sayang Non  lebih dari sekedar sayang kakak ke adik, abang enggak peduli sama hubungan Non dan Vino. Abang juga enggak peduli sama respon Non nantinya. Yang jelas abang benar-benar sayang sama Non.” Sambungnya sambil mengengegam tanganku.
              Saat itu aku bingung bercampur bahagia, ku rasakan tangan Kak Aldi yang begitu dingin, ah mungkin cuma perasaanku saja, mungkin juga tanganku yang dingin mendengar pengakuan jujur dari Kak Aldi. Kami berdua diam sesaat, Kak Aldi masih menatapku dengan lembut, sampai aku sendiri tidak berani menatapnya takut kalau nantinya terjadi sesuatu diantara kami berdua.
              “Non, tidak perlu menjawab. Abang ngungkapin ke Non saja sudah lega rasanya. Makasih ya Non selama ini mau berbagi bersama abang. Maaf kalau selama ini abang banyak salah sama Non” ucapnya tulus.
              Aku masih terdiam membisu, bingung harus berkata apa. Kak Aldi berdiri di hadapanku, ia pun berpamitan pulang kepadaku.
              “Non, abang pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik, abang akan selalu sayang sama Non, abang akan selalu tersenyum untuk Non.” Lanjutnya.
              Ia pun mengecup keningku, hal yang baru ia lakukan padaku. Kemudian Kak Aldi melangkahkan kakinya meninggalkanku yang masih duduk terpaku di bangku taman, ia tersenyum menatapku. Saat itu tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku, entah mengapa rasanya kali ini berat melihat kepergian Kak Aldi tak seperti biasanya. Aku berusaha berlari mengejar Kak Aldi namun tampaknya dia sudah jauh tidak terkejar.
***
              Hari itu pikiranku benar-benar kacau, aku pun bergegas agar segera sampai di rumah, mandi, dan tidur. Namun apa yang ku rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Saat ku masuki ruang tamu di sana ku lihat bunda tengah mengangis tersedu-sedu seorang diri, aku pun langsung menghampiri beliau dan memeluknya.
              “Bun, ada apa? kenapa? apa yang sudah terjadi?” tanyaku khawatir
              Bunda tetap diam membisu, beliau masih saja terus menangis, sampai akhirnya ayah muncul dari arah dapur dengan membawa segelas air putih di tangannya. Dengan spontan aku langsung bertanya pada ayah...
              “Yah, bunda kenapa?” tanyaku
              Ayah duduk di sampingku, awalnya beliau terdiam seolah menyembunyikan sesuatu, dengan tenang dan perlahan beliau menyampaikan sebuah berita yang tidak pernah kuduga dan terpikirkan...
              “Tadi Om Jamal telefon katanya Kak Aldi meninggal karena kecelakaan” jawab ayah tenang sembari meletakkan gelas yang berisi air putih.
              Rasa sedih yang mendalam menyelimuti hatiku, tubuhku lemas, namun aku berusaha tenang dan terus mengorek informasi lebih jelas dari ayah...
              “Kapan, dan dimana?” tanyaku dengan perasaan tidak percaya.
              “Dua hari yang lalu di jalan xxx. Awalnya Aldi dibawa ke rumah sakit masih dalam kondisi koma, namun tuhan berkehendak lain setelah koma 2 hari nyawanya tidak tertolong.” Sambung ayah
             
              “Enggak mungkin yah! Dua hari yang lalu Kak Aldi mengunjungiku sepulang sekolah dan dia kelihatannya baik-baik saja,” sanggahku yang tanpa terasa air mata sudah membasahi pipiku
              “Kamu ini jangan mengada-ada!” bentak ayah.
              Aku bagai disambar petir, badanku lemas, pikiranku makin kacau, kepalaku pusing. Aku tidak percaya pada semua yang dikatakan ayah. Apakah ini cuma jebakan untuk pesta ulang tahunku seperti di film-film? Aku juga tidak tahu pasti.
              “Aku serius ayah! Baru saja aku bertemu dengan Kak Aldi di taman kota. Aku tidak percaya pada apa yang ayah katakan”
              “Sudah...sudah!!! lebih baik kita pergi ke rumah Om Jamal sekarang” lerai bunda yang masih tampak terisak-isak.
              Aku dan ayah pun terdiam. Kami sekeluarga bergegas menaiki mobil yang dikendarai ayah. Sepanjang perjalanan aku berpikir inikah jawaban dari semua kejanggalanku selama 2 hari ini? Kepalaku semakin pusing memikirkannya, seolah aku tidak percaya pada semua yang terjadi hari ini, sementara ku lihat bunda menangis terus menerus, aku sendiri tidak tega melihatnya. Ku peluk bunda yang kebetulan duduk di jok tengah tepatnya dibelakang supir bersamaku.
***
              Ku buka pintu mobil dan turun dengan perlahan. Di rumah itu sudah tampak banyak orang mengenakan pakaian serba hitam. Apakah ini mimpi? Aku berusaha menyakinkan diri dengan mencubiti pipiku, tentu terasa sakit. Berarti ini kenyataan dan bukan mimpi, bunda dan ayah langsung menggandengku yang masih mengenakan seragam putih abu-abu kala itu. Kami bertiga berjalan menuju rumah duka. Begitu sampai kami dipersilakan masuk dan duduk oleh Om Jamal.
              “Maafkan kami telat memberi informasi tentang Aldi, waktu itu kami benar-benar bingung” sesal Om Jamal
              “Ya sudah, kami turut berduka cita atas perginya Aldi” jawab ayah bijak
              “Sekarang jasad Kak Aldi mana om? Aku pengen lihat” pintaku memelas dengan air mata yang terus mengalir.
              Kemudian Om Jamal mengantar aku dan ayah untuk melihat jasad abangku tersayang untuk yang terakhir kalinya. Aku berdiri tepat di depan jasad Kak Aldi, ku pandangi sejenak tubuh yang terbujur kaku yang hanya ditutupi kain, dengan perlahan aku buka kain penutup wajahnya. Tanpa terasa air mata mengalir deras membasahi wajahku, ayah pun langsung mendekapku sambil berbisik
              “Ikhlaskan Kak Aldi, dari surga dia pasti tersenyum melihatmu” kata ayah bijak.
              Aku melepaskan pelukan ayah dengan perlahan, berusaha untuk tegar. Ku kecup kening tubuh yang terbujur kaku itu dan menutup kembali kain penutup kepalanya.
***
            Mungkin sampai saat ini aku tidak percaya dan mengerti apa maksud dari semua ini. Air mata sukses membasahi wajahku malam itu untuk mengenang sosok Kak Aldi yang tanpaku sadari dialah cinta pertamaku. Aku kembali meredupkan sang penerang dan kembali ke tempat tidur. Mencoba memejamkan mata sambil mendekap erat Mark, sang boneka beruang pemberian Kak Aldi. Aku tidak tahu kapan lagi melihat senyum seindah seperti senyum Kak Aldi namun yang ku tahu sekarang Kak Aldi sedang mengembangkan senyumnya dari surga untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar